December42008
menunggu waktu pulang
inti dari hari ini adalah kebimbangan.
tentang saya yang ragu akan pulang hari ini, jum’at atau Sabtu
tentang saya yang ragu akan tetap untuk belajar di kos dan kampus atau pulang ke Bandung.
di satu sisi, mamah saya menganjurkan untuk pulang karena Idul Adha akan segera datang.
namun ada satu yang tersirat yang tak dapat saya sembunyikan.
tentang keadaan.
bukan karena saya tidak mampu untuk membayar ongkos pulang-pergi Jakarta Bandung. paling mahal juga cuma seratus ribu pulang pergi. itupun sudah dapat kereta eksekutif ber-AC
ada yang tak dapat saya sembuntikan dalm lubuk hati saya.
sebuah kenyataan yang bisa saya bilang adalah ketidakmampuan.
saya masih belum bisa membuktikan dan menghapuskan ketidakmampuan saya untuk sekadar menjadi orang yang bisa menghasilkan.
hidup saya ini sepenuhnya masih belum milik saya.
berkali-kali teman saya berkata, ‘koq jadi cowok perhitungan banget?’ pertanyaan yang menurut saya absurd.
absurd karena mereka tak pernah mengerti. bahwa saya masih belum hidup sepenuhnya.
bukan saya pelit, namun saya berpikir, jika memang nantinya saya harus benar-benar terlepas dari orang tua saya, saya takut saya akan bingung untuk memulai persaingan hidup.
meskipun saya sudah hidup terpisah dengan orang tua saya. namun ternyata, ada satu yang tak bisa saya sembunyikan dalam hati saya.
bahwa saya masih lah sebuah bayi yang terlahir dari embrio, yang masih butuh untuk disuapi atau dicekoki obat saat sakit.
saya tak ingin menjadi orang yang tak bersosial.
saya tak ingin dicap sebagai orang yang perhitungan atau tidak mempedulikan sesama atau bahkan orang tua.
saya hanya butuh waktu. mungkin berusaha sambil menunggu waktunya tiba. dan saatnya membuktikan,
bahwa saya bukanlah orang yang seperti orang lain kira.
bahwa saya peduli lingkungan.
dan jika memang diperlukan, saya siap berkorban jika itu memang sebuah keharusan.
*pszht*
bimbang, ingin pulang, tapi tak ada yang dibanggakan. mamah, imut, alm father… sorry!