December32008

it’s about human, folks!

kemarin saya melakukan hal yang paling terasing dalam hidup saya. sebuah tindakan yang tak pernah saya duga bisa saya lakukan sebelumnya, akhirnya singgah dalam kehidupan saya. secara tak disengaja, saya ditawari untuk menjadi sukarelawan dalam program ‘Charity for Care’ Kelompok Usaha Bakrie. cukup simpel, hanya mengajar di halaman depan masjid Al Bakrie. awalnya saya menduga, mungkin hanya akan ada belasan atau paling banyak tiga puluh murid yang akan hadir. namun setelah saya tiba di lokasi, ada sekitar seratus lima puluh anak yang hadir disana. hari selasa, giliran kelas dua dan tiga SD. yang jelas, mulai dari TK hingga SMP kelas tiga bisa mengikuti tambahan pelajaran tersebut.

dari situ saya sempat ragu, dan ingin sekali mundur dari program tersebut. dalam hati, jujur saya ingin menangis. karena yang datang disana rata-rata adalah anak-anak warga sekitar yang tingkat pendapatannya tergolong rendah. sungguh, betapa miris hati saya. dikala saya yang saat ini terkadang malas untuk masuk kelas, ratusan anak tersebut dengan antusias duduk di depan saya dan minta untuk belajar. awalnya saya bingung, karena memang program ini baru berjalan, sehingga belum ada cara pengajaran yang efektif terhadap anak-anak tersebut. untuk itu, setiap tenaga pengajar dituntut untuk memiliki cara pengajaran tersendiri. dan saya adalah salah satu dari sepuluh pengajar yang kemarin datang. awal mula setiap anak dikelompokkan dan diberi seorang pengajar/mentor. dan kebetulan saya kebagian delapan anak, enam laki-laki dan dua perempuan. jika saya tidak lupa, mereka adalah sefin,vita,iqbal,luqman,rifa,febri,yasser dan dafa. mulailah hati saya tersentuh.

tidak hanya karena akan kenakalan mereka, atau justru antusias mereka dalam mendapatkan pengetahuan dari saya. tapi saya teringat mama saya. saat itu sontak saya uring-uringan dalam hati. ingin menagis benar rasanya, karena tak lain karena akhirnya saya dapat merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang guru. namun saya masih tak dapat membayangkan. bagaimana sulitnya mama saya yang notabene seorang guru Sekolah Luar Biasa yang menangani anak-anak Tunarungu ( bisu dan tuli ). saya tak dapat membayangkan, bagaiamana sabarnya ia saat ia harus berhadapan dengan anak-anak yang boleh dikata memiliki kekurangan secara fisik (indera). bagaimana dia dapat merespon dengan baik saat-saat mereka ingin tersenyum senang, atau bagaimana menangkap suatu titik saat mereka sedang sedih. pasalnya, saya yang diberikan wewenang untuk mengajar delapan anak kelas dua SD yang normal saja rasanya tak tahan betul akan kenakalan dan rasa keingintahuan mereka yang tak pernah ada habisnya. energi yang mereka keluarkan seolah tak ada habisnya. dan saya, sebisa mungkin harus menjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan mereka. meskipun hanya pertanyaan-pertanyaan absurd yang berulang-ulang seperti : ’ kak, gimana caranya? aku gak ngerti.’.

mungkin itulah yang dapat saya ambil. mama saya bilang, itu adalah sebuah pengalaman yang tak akan bisa saya beli dengan uang. ini bukan soal jual beli, ini soal social responsibility kalau menurut prinsip management. mungkin untuk sebagian orang, hal ini terkesan biasa saja. tapi buat saya yang baru pertama kali mendapat pengalaman ini. sungguh! ini lebih berharga ketimbang saya menghabiskan waktu di mall atau tempat-tempat wisata. sebuah makna hidup yang saya cari. tentang hidup yang selama ini saya pertanyakan. dan jika memang ada yang lebih berharga, mungkin saya akan mengetahuinya dalam tahap taraf kehidupan ini. semoga!

Comments (View)
blog comments powered by Disqus
« Older BLOCK | Random | Newer BLOCK »