December12008
it seems such a silly thing
meninggalkan dompet di food court, itu sudah lumrah terjadi.
Ketinggalan Handphone di food court, itu juga sudah biasa terjadi.
Tapi kalo ketinggalan TAS RANSEL di food court, it seems such a silly thing.
kebodohan pertama saya adalah, membiarkan tas saya yang berisikan buku ‘Mathematical Analysis’ yang tebalnya 800 halaman itu, dan lebih tertarik untuk icip-icip makanan teman saya. istilah singkatnya, madokin orang. alhasil, tas yang segede gaban itu saya tinggalkan dibawah kolong meja food court sampai akhirnya saya harus terjerat dengan proses birokrasi pasar festival and my ’Beloved’ campus, Bakrie School of Management.
awalnya, saya dan ‘samsonwati’ bertemu dengan Pak Satpam, dan Pak Satpam bilang saya harus menemui Pak Heri, si admission keluaran militer itu. dia bilang, minta antar satpam tadi buat ambil tas di pos security Pasar Festival. lalu saya dan ‘samsonwati’ balik lagi ke tempat pak Satpam, dengan muka ala satpam yang gajinya 6 juta per bulan itu, muka sinisnya langsung bilang, ya tanya aja sama satpam diatas. kemudian kami berdua pun keatas. sampai diatas kami diperintahkan untuk ke bawah, ke tempat pos security. sempat nyasar dan walhasil, ditemukanlah tas saya yang tergeletak di lantai. dan pak security mengatakan kata-kata yang mungkin menurut dia adalah lawakan yang lucu, tapi menurut saya itu tak lebih dari sekedar lawakan kuli bangunan. ia mengatakan :
Pak Security Pasar Festival : ’ gimana nih dek, tas aja bisa kelupaan! kalau ‘barang kepunyaan’ ( diperhalus, aslinya dia sebut kon*** tahu kan!) kamu yang ketinggalan gimana?’
Respon saya : (sok-sok senyum maksa)
gila gak tuh? Seorang Kepala Security atau entah bagian security Pasar Festival yang mana, mengatakan lelucon, yang menurut saya emang gak lucu sama sekali. omongannya itu lho yang tidak difilter sama sekali. denger-denger sih, kalau di Pasar Festival ini sering ditemukan kasus-kasus kelainan seksual. hii! merinding jadinya. pas saya ngomong sama samsonwati, dia hanya terheran-heran sambil bilang, ‘Gila ya?’
setelah tas saya dapatkan, perjuangan saya belum usai. saya kembali lagi ke Pak Heri untuk menanyakan nasib ID Card seharga 25 ribu itu. mulailah birokrasi yang benar-benar ruwet itu dimulai. saya harus balik kepada pak Satpam, minta surat pernyataan telah melanggar, balik lagi ke Pak Heri, basa basi. tanda tangan, suruh fotokopi (di Multiplus, dengan mba dan mas yang jutek). balik lagi ke satpam, kasih salinannya. balik ke Pak Heri dan akhirnya ID Card kembali.
sebuah proses yang panjangdari birokrasi keamanan Pasar Festival and My ‘Beloved’ Campus. mungkin ini harus dijadikan pelajaran buat saya yang memang suka teledor. saya sadari sepenuhnya, mungkin saya tak mau lagi semua itu terjadi. harus berhadapan dengan macam-macam birokrasi. benar-benar membuat saya lelah diri.
Nb.
Beberapa menit sebelum posting ini dibuat, Pak penjaga Perpus yang telah akrab dengan saya bilang. ‘Sha, tadi kamu dicariin satpam!’.
Mampus deh!