November52008
…
Diantara sebagian reruntuhan benteng Martello yang telah hilang, aku berjalan menyusuri pasir putih dan karang-karang pemecah ombak yang timbul dan tenggelam karena pasang surutnya laut. Hari itu, Matahari baru sebesar mangkok terbalik. Kucing-kucing pun masih bersembunyi di dalam lubang yang terdapat disekeliling benteng. disanalah tempatku menghabiskan setiap pagi. bukan dengan setangkup roti atau secangkir kopi. cukup dengan seberkas sinar mentari. yang setiap pagi menyinari hati. bagai mencumbu lampu, mataku tak akan berkedip untuk menyaksikan setiap goresan Tuhan yang tak ternilai ini.
====
Hari itu menjadi saksi sejarah. Ibu menangis seperti ibu malin kundang yang menangisi anaknya saat hendak pergi merantau. Bagaimana tidak, anaknya akan melakukan hal yang serupa dilakukan malin kundang. Ibu takut aku menjadi durhaka. terbuai akan dunia, lupa akan surga. apalagi yang harus aku lakukan selain cari muka. saat itu semangatku sedang membara, dan kemana lagi tempat yang harus kutuju selain Jakarta.
Subuh-subuh sekali aku bangun dan bergegas mengambil air wudlu. meskipun kutahu, kumandang adzan subuh belum mendengung di telingaku. ini hanya soal kecemasanku akan perjalanan ini. belum lagi aku harus mengejar perahu cadik milik pak Maliki ke onrust. satu-satunya akses ke Jakarta, ya melalui juragan sayur ini. itupun harus kubayar dengan bekerja jadi kuli panggul selama sepuluh hari sebelumnya.
aku ragu saat rakitku melewati pulau Kelor yang masih temaram. Kurapatkan rakitku sejenak untuk mengukir namaku diatas karang-karang pemecah ombak yang mencuat timbul sebatas pinggang orang dewasa. berharap sepulang dari merantau aku tak akan lupa akan eksotisme dan kenangan yang selalu kurajut setiap fajar tiba disini.
‘Bajo, hendaklah kau naik ke kapal. aku telah ditunggu bosku di Tanjung Pasir.’
aku hanya bisa tersenyum, hatiku tak menentu. tak tahu akan sedih atau bahagia. pandanganku kosong, nanar tak bernyawa. hingga tak terasa perahu mulai merapat di tanjung pasir. setelah itu aku menumpang di belakang mobil bak terbuka milik bos pak Maliki. aku dijanjikan sebuah pekerjaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, buruh apartemen. di depan sebuah pagar yang sangat megah, aku terheran melihat bangunan rumah yang bertingkat sampai beratus-ratus meter tingginya. menengadahkan kepalaku saja membuatku dibuatnya puyeng. sungguh benar-benar tak tahan rasanya, lebih baik aku berlayar bolak-balik onrust beribu-ribu kali.
seminggu setelah aku bekerja, aku tak kuasa menanggung beban batin. hypsiphobia dan batophobia membayangiku selalu. untuk itu aku memberanikan diri untuk menghadap mandor Jamil. tubuhnya bengkak seperti kecoa madagaskar. sungutnya kerap kali mengepul mengeluarkan asap. namun seluruh tubuhnya dikelilingi harum buah lemon yang bercampur dengan keringatnya yang makin asam.
‘boleh saya bekerja pindah lantai pak?’
‘lancang sekali kamu!’. Mandor ini memang bertindak layaknya mandor-mandor lain. tegas dengan aksen galak.
‘saya…saya… tak kuat melihat Jakarta dari atas’
‘kalau begitu, pejamkan saja matamu itu. kerja ya kerja’
‘saya tidak buta pak… saya orang kampung’
‘kau kira semua buruh disini bukan orang kampung? lihat si ujang. yang sukanya dengan lagu sinden. lihat si Jono yang doyannya campur sari. buruh tak pandang kampung.’
Buruh-buruh yang saat itu sedang lalu lalang membawa seember adukan semen sontak tertawa sembunyi-sembunyi. ia tak mau Mandor Jamil tahu. bisa-bisa ia tak digaji selama sewindu. aku berbalik meninggalkan Mandor Jamil yang terus menyumpahi aku. mungkin itulah yang membuatku tak nyaman dalam pekerjaan ini. namun akhirnya aku bertemu dengan tiga sahabat baru.
namanya Paijo, Asep dan Sitorus. mereka senang sekali duduk berbanjar memanjang di atas besi-besi beton saat waktu istirahat tiba. dengan gelas masing-masing berisi kopi hitam, kopi susu dan teh tubruk. sesekali terdengar lenguhan Asep yang menikmati nikmatnya pijatan Paijo. ‘ah…nikmat’ begitu katanya. tak lama kemudian, Sitorus protes. ia tak kebagian jatah pijat. memang diantara mereka bertiga Paijo lah yang paling jago dalam pijat-memijat. Paijo memang jadi rebutan, bahkan dengan keahliannya ia dapat menjilat Mandor Jamil untuk mengangkatnya menjadi ketua kuli lantai 19. semenjak Mandor Jamil mengetahui keahlian pijat-memijat Paijo, kerja Paijo tak lagi jadi kuli. ia jadi tukang pijat keliling dari lantai satu hingga lantai paling atas.
di Sore hari, semua orang berebut mandi. bayangkan saja, puluhan kuli harus mengantri dalam satu bilik untuk mandi. belum dua menit berada di dalam, Kuli lain menggedor-gedor pintu karena tak sabar ingin cepat-cepat pulang ke rumah. alhasil, aku biasa dapat jatah terakhir. karena aku tak pulang ke rumah seperti yang lainnya. begitu juga dengan ketiga sahabatku, mereka semua pendatang disini. yang pendatang, ya harus tidur di alam bebas. Selepas mandi terkadang kami menghabiskan setengah malam kami untuk berbincang soal keluarga dan saling membanggakan masing-masing daerahnya.
‘jo, sekarang ceritakanlah soal daerahmu itu! kita-kita tak pernah tahu bagaimana kondisi keluargamu atau daerahmu itu.’ ujar Sitorus dengan logat yang setengah orang marah. khas sekali merepresentasikan masyarakat batak.
‘muhun! kumaha atuh ari kulawargi jang Bajo teh? bapak aya keneh?’ Asep menanyakan keadaan keluargaku.
sejenak aku bingung, lalu aku begerak ke tepi gedung untuk merenung. memeluk kedua kaki sambil melihat hingar bingar Jakarta di waktu malam. sinar cahayanya terang namun tak menyilaukan. tak merasuk hingga ke jantung. sejenak aku teringat akan pulau Kelor yang selalu mengingatkanku akan matahari paginya. saat matahari baru sebesar mangkok terbalik, dan sinarnya merasuk ke dalam mati hingga turun ke hati. bagai mencumbu lampu, aku takkan pernah berhenti untuk memandangnya hingga tak terasa air telah timbul dari permukaan dan membasahi ujung-ujung jemariku. tak lama kemudian, ayah meniupkan peluitnya. pertanda air mulai pasang. aku bergegas mengitari karang-karang pemecah ombak yang sekarang telah tertutup air. naik ke perahu cadik, kembali ke onrust untuk menukar hasil tangkapan laut dengan beberapa ikat kangkung atau bayam yang dibawa perahu pak Maliki.
’ ada apa sampean ini?’ ujar Paijo sambil menepuk pundakku membuyarkan lamunanku.
’ sedang ingat kampungnya dia! biarkan saja begitu.’ ujar Sitorus bijak
’ aku ingin menjwab pertanyaanmu Sitorus!’ jawabku sambil membalikkan badan
’ kalau begitu, ya jawab saja sekarang. kenapa kau harus meminta izin terlebih dahulu?’
’ justru itu…’
‘maksudmu?’
’ Paijo, besok kau bujuk Mandor Jamil. bilang saja aku tak enak badan dan hendak ke puskesmas. ‘
’ nje..nje..tapi..’ jawaban Paijo kupotong.
’ Kau Pijat saja ia, pasti ia akan mengizinkanku.’
’ ari anjeun bade kamana?’ Asep bertanya hendak kemana aku pergi.
’ mencari jawaban pertanyaanmu, Sitorus!’
’ Bah, macam mana pula kau ini! jawab, ya jawab saja. aneh kau ini.’
aku hanya tersenyum dan bergegas mencari tempat yang nyaman untuk membaringkan tubuhku, dan sesegera mungkin memejamkan mataku. Esok aku akan mengelabui Mandor Jamil untuk menjawab pertanyaan Sitorus. juga menjawab pertanyaanku selama ini. Subuh-subuh sekali aku bangun dan bergegas mengambil air wudlu. meskipun kutahu, kumandang adzan subuh belum mendengung di telingaku. ini soal kecemasanku tentang perjalanan ini, aku takut tak bisa menjawab pertanyaan Sitorus.
esoknya rencanaku berjalan sesuai skenario. pukul lima pagi aku bergerak dengan dalih mau salat di masjid sebelah apartemen. Asep dan Paijo turut mengiringi kepergianku. supaya tak ada yang curiga kalau aku akan pergi libur untuk sehari. selepas tiba di perempatan jalan Rasuna Said, aku bergegas menaiki jembatan untuk naik busway.
’ hah? busway? ati-ati sampean. tak tahu aturannya, bisa-bisa kejepit pas masuk.’ ujar Paijo mengingatkan.
masa bodoh, tekadku sudah bulat tak ada lagi yang bisa menghalangi kepergianku ini. di loket tiket, aku bertemu dengan wanita cantik yang saat aku baru akan bertanya, dia mengatakan ‘Selamat pagi, mas! ongkosnya dua ribu rupiah’. lalu aku mengeluarkan dua lembar uang seribu dan memberikannya. setelah itu, ia memberikanku sebuah kartu. aku bingung, untuk apa kartu itu. baru beberapa langkah, aku dihadapkan dengan seorang petugas berpakaian rapi dan dia menanyakan kartu yang sedari tadi aku tak tahu gunanya untuk apa. rupanya, kartu itu digunakan sebagai tanda masuk secara elektronik. sambil menunggu bus yag datang, aku bertanya kepada sang petugas.
’ bang, kalau mau tahu Jakarta, saya harus pergi kemana ya?’
’ keliling aja dengan busway. mas ini, mau tahu Jakarta yang seperti apa? dengan busway, semua seluk beluk Jakarta pasti akan mas dapat lihat. tapi kalau saran aye nih, sebagai warga jakarta asli. mas coba saja ke kota tua.’
’ kota tua?’
’ ia, disana banyak berdiri museum-museum yang akan menjawab pertanyaan mas tentang Jakarta.’
lalu bus yang ditunggu pun tiba. untungnya aku telah bertanya kepada petugas tadi, dan aku diberikan peta berukuran sebesar kartu nama. dengan spidol merah, ia menandai halte stasiun Kota. disanalah aku harus turun untuk menuju ke kota tua. perjalanan dimulai dengan mengitari jalan-jalan protokol seperti jalan Rasuna Said, Jenderal Sudirman dan MH Thamrin. pemandangan yang mendominasi di sepanjang jalan itu adalah gedung-gedung tinggi yang merepresentasikan jakarata sebagai surga metropolis dan mencerminkan kota yang sangat kosmopolis. buatku yang tak terbiasa dengan keadaan ini, sedikit pusing rasanya melihat gedung-gedung pencakar langit tersebut. beruntung, aku dihibur oleh orang-orang asing yang lalu lalang di sepanjang jalan tersebut.
diujung Jalan husni Thamrin, aku sontak kaget. darahku seperti meluap, keringatku menguap meskipun suasana busway dingin karena terdapat pendingin ruangan. layaknya aku melihat sebuah poster yang telah lusuh yang dibawa ayah bertahun-tahun lalu. aku tak bisa berkata apa-apa. kuagungkan rasa syukurku kepada Ilahi. Tuhan, betapa bahagiaanya aku, melihat tugu Monas yang berdiri kokoh dan tegar diantara taman-taman yang tertata rapi. atapnya yang keemasan berbentuk seperti es krim yang meliuk-liuk. seperti anak-anak yang tak sabar ingin melumat habis seluruh es krim, akupun demikian. betapa tak sabarnya aku ingin berdiri di depan Monas, naik ke atas puncaknya. seperti pahlawan-pahlawan yang mencapai kejayaannya.
sayang, pintu telah tertutup saat aku sadar seharusnya aku segera turun di halte Monas. dengan sedikit kecewa, aku tak sedikitpun melepaskan pandanganku ke arah menara itu. hingga tanpa sadar aku telah tiba di Halte Stasiun Kota. Alamak! Betapa bahagianya aku hari ini. tak jadi ke Monas, aku bertemu dengan deretan sepeda kumbang tua yang terparkir dengan rapinya di depan museum bank mandiri. seperti anak ayam yang kehilangan induknya, langsung saja aku menyerbu salah satu sepeda tua, dan berdirilah sang empunya.
‘mas, jangan asal nyomot aje dong!’
Seperti maling yang tertangkap basah, aku hanya tersenyum memperlihatkan gigiku yang sedikit kuning.
‘maaf bang! ini…sewa?’
‘iye lah, masa aye gadein’
‘ya maaf bang, saya pikir…’
‘ah si mas suka bercande aje. ayo, mu kemana ni mas?’
Saya terbingung sejenak. kemudian saya menggeleng.
‘saya orang kampung!’
‘nah ini nih, yang bikin celake nih!’
‘saya sudah punya pekerjaan kok bang! saya cuma ingin ke kota tua. ingin tahu Jakarta.’
‘ok. biar aye anterin dah.’
jadilah aku dibonceng dengan sepeda kumbangnya. semilir angin merebak sepanjang perjalananku ke kota tua. baru beberapa meter sepeda melaju, aku terbuai dengan keelokan bangunan peninggalan Belanda yang eksotis.Ibu-Ibu dengan rok kain polos putih membawa nampan yang menjulang diatas kepalanya. Seperti orang Bali yang membawa dagangan diatas kepalanya.Pohon kelapa di kanan kiri jalan yang membuatku selalu teringat akan benteng Martello tempatku bersenandung di pagi hari. Aku tak bisa menahan rasa ini. Melihat kekagumanku akan bermacam-macam sudut kota Jakarta. Sesaat kemudian perjalanan sepeda berhenti di depan Museum Sejarah Jakarta. Sebuah titik yang menandakan inilah Kota Tua Batavia yang dahulu pernah ada. Dunia begitu absurd. Beberapa menit aku terbuai akan kosmopolis Jakarta yang mewah dan megah. Eksekutif sibuk merapikan dasinya, berlalu lalang mengejar uang. Gedung-gedung bertingkat saling berhimpitan berlomba-lomba menyentuh awan. Melangkah sedikit ke utara, semua budaya kosmopolis pudar. Semua serba tempo dahulu, mulai dari sepeda kumbang yang selalu kudamba. Hingga meriam si Jagur yang mempesona. Semua itu takkan luput dari ingatanku. Tak lupa, Benteng Martello yang paling eksotis di utara Jakarta. Membuaiku dan memulangkanku kembali kepada pertanyaan Sitorus.
‘ Jadi, ceritakanlah soal daerahmu itu!’.Aku tersenyum sebentar, dan bergerak ke ujung lantai 19.
‘Inilah Kampungku.’
‘hah?!’ Ketiganya memperlihatkan ekspresi tak percayanya.
‘ Bajo, jadi kau orang Jakarta?’ tembak Sitorus
Malam itu mulutku tak berhenti untuk menjawab keingintahuan ketiga sahabatku ini hingga terkadang aku tak sadar karena mulutku mengeluarkan busa. Tak pernah bosan aku menceritakan semuanya, tentang Jakarta hingga kembali kepada Pulau Kelor dan Onrust dimana aku menghabiskan sepanjang waktuku disana, di utara Jakarta.