October292008

can we tolerate ‘THIS’ ?

hari selasa kemarin, dosen agama saya bertanya tentang bagaimana cara kita bersikap kepada orang yang bukan satu agama.. dan pertanyaannya sangat simple :

‘banyak orang non muslim yang pada saat Hari Raya Idul Fitri mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI. dan bahkan tak jarang ada beberapa diantara mereka yang bahkan memohon maaf atas perbuatan yang telah mereka lakukan selama setahun ini. hal yang serupa, lumrah dilakukan oleh umat muslim pada saat malam takbiran. semua provider ponsel keranjingan banyak order sms yang membuat jaringan menjadi sibuk. nah, yang jadi pertanyaan.. bolehkah kita melakukan hal yang serupa sebagai umat muslim kepada mereka( non muslim ) saat mereka merayakan hari rayanya masing-masing?’

spontan saat itu juga, saya bilang Boleh-boleh saja.

namun, dari tiga puluh orang yang hadir dalam kelas itu, hanya saya yang memiliki pandangan yang berbeda. semula saya juga berpikir sama saat teman-teman saya terang-terangan mengatakan TIDAK BOLEH.  namun entah mengapa, detik berikutnya, saya berubah pandangan. saya mengerti tentang alasan mengapa memutuskan untuk mengatakan TIDAK BOLEH.  karena alasan yang serupa pernah saya dengar sejak bertahun-tahun lalu. katanya sih, kalau kita mengucapkan secara terang-terangan seperti contoh : MERRY X-MAS.. atau HAPPY WAISAK.. berarti kita telah mengucapkan selamat atau lebih tepatnya mendo’akan mereka agar selamat, atau arti yang lebih sempitnya. kita telah mendo’akan orang-orang yang kafir yang berarti kita telah mensyukuri juga Hari dimana mereka mensyukuri nikmat TUHANNYA.

Tanpa disadari, kejadian ini memang sering terjadi dalam kehidupan kita. dan saya pribadi, terkadang risih dan bingung bagaimana harus menyikapi hal tersebut. seringnya yang terjadi, adalah kita (sebagai umat ISLAM) tidak pernah menerapkan Hal tersebut. padahal, banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dari kejadian tersebut. pada awalnya saya berpikir, jika dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari, kejadian ini tak lebih seperti saat kita berbalas sapa dengan orang lain (tanpa memandang agama, ras dan kalau boleh dibilang rasa benci yang terkadang tumbuh ). saat kita menyapa ‘Hai..’ dan spontan orang yang kita sapa mengucapkan ‘Hai.. apa kabar?’ misalnya. dan terkadang berlanjut hingga ke percakapan sederhana seperti menanyakan keadaan dan basa-basi lainnya.  

dari sanalah saya mulai berpikir, jika lebih ditekankan pada fungsi sosial, bukankah kegiatan tersebut adalah hal yang lumrah? bukankah manusia tak bisa hidup sendiri? bukankah manusia adalah makhluk sosial yang mau tak mau saling membutuhkan? salahnya, terkadang kita terbuai dalam ruang perspektif kita sendiri.  kita sering melupakan sudut perspektif lain yang ada. kita tak pernah menanyakan atau merasakan, bagaimana pandangan orang yang (dalam kasus ini adalah non muslim) terhadap perilaku yang kita berikan terhadapnya. khususnya bagi mereka yang menghargai keberadaan ISLAM salah satu caranya dengan mengirim sms permohonan maaf pada hari lebaran. atau mengucapkan selamat hari raya idul fitri.

memang, Indonesia merupakan negara yang mayoritas beragama MUslim. sehingga secara tidak langsung, kaum-kaum minoritas yang tinggal di Indonesia harus legowo dan bertoleransi mengikuti berbagai kebiasaan dan gaya hidup dari mayoritas. termasuk dalam bertoleransi antar umat beragama. lain halnya, jika sekarang kita merantau pergi ke wilayah eropa misalnya. disana, kitapun menjadi minoritas yang dituntut untuk melakukan hal yang serupa dengan kasus minoritas-minoritas lain. ADAPTASI DAN TOLERANSI menjadi dua faktor penting yang menjadi kunci dari permasalahan ini.

bayangkan, jika sebagian dari manusia di bumi ini memiliki sensitifitas yang sangat tinggi. apa yang akan terjadi? saat hal-hal sepele seperti ini terlupakan, bisa-bisa akan terjadi perang yang hebat demi pembelaan nama agamanya sendiri. mungkin hal ini disadari oleh orang-orang yang tak mau citra dari agamanya buruk. toh orang yang berbeda agama juga masih Manusia yang terlahir dari Ibu yang telah bersusah payah selama sembilan bulan mengandung. kalau memang orang kafir itu adalah setan, lain lagi kondisinya.

sampai hari ini, pertanyaan itu belum terjawab oleh dosen saya yang perlu dicatat, dia adalah salah satu dosen di Bakrie School Of Management dan merangkap menjadi Kepala Dekan Rektor UIN Sunan Gunung Jati. jadi, benar atau tidaknya jawaban saya, kita lihat minggu depan…

posted by :

*Pszht* 

Comments (View)
blog comments powered by Disqus
« Older BLOCK | Random | Newer BLOCK »