January112009
sebulan liburan, membuat saya bulukan di kamar. untuk tahun yang baru ini, saya tak mau banyak bicara sebelum saya dapat menghasilkan karya. yang jelas tahun ini saya membagi hidup saya dalam empat fase. fase pertama ( 8 januari - 6 maret ’ 09). entah bagaimana caranya lagi agar saya dapat keluar dari jerat penat ini. mungkin saya akan stop sesaat dalam fase ini, saya ingin keluar dari segala dosa-dosa yang pernah saya lakukan. saya ingin semuanya bersih seperti sedia kala.
December42008
inti dari hari ini adalah kebimbangan.
tentang saya yang ragu akan pulang hari ini, jum’at atau Sabtu
tentang saya yang ragu akan tetap untuk belajar di kos dan kampus atau pulang ke Bandung.
di satu sisi, mamah saya menganjurkan untuk pulang karena Idul Adha akan segera datang.
namun ada satu yang tersirat yang tak dapat saya sembunyikan.
tentang keadaan.
bukan karena saya tidak mampu untuk membayar ongkos pulang-pergi Jakarta Bandung. paling mahal juga cuma seratus ribu pulang pergi. itupun sudah dapat kereta eksekutif ber-AC
ada yang tak dapat saya sembuntikan dalm lubuk hati saya.
sebuah kenyataan yang bisa saya bilang adalah ketidakmampuan.
saya masih belum bisa membuktikan dan menghapuskan ketidakmampuan saya untuk sekadar menjadi orang yang bisa menghasilkan.
hidup saya ini sepenuhnya masih belum milik saya.
berkali-kali teman saya berkata, ‘koq jadi cowok perhitungan banget?’ pertanyaan yang menurut saya absurd.
absurd karena mereka tak pernah mengerti. bahwa saya masih belum hidup sepenuhnya.
bukan saya pelit, namun saya berpikir, jika memang nantinya saya harus benar-benar terlepas dari orang tua saya, saya takut saya akan bingung untuk memulai persaingan hidup.
meskipun saya sudah hidup terpisah dengan orang tua saya. namun ternyata, ada satu yang tak bisa saya sembunyikan dalam hati saya.
bahwa saya masih lah sebuah bayi yang terlahir dari embrio, yang masih butuh untuk disuapi atau dicekoki obat saat sakit.
saya tak ingin menjadi orang yang tak bersosial.
saya tak ingin dicap sebagai orang yang perhitungan atau tidak mempedulikan sesama atau bahkan orang tua.
saya hanya butuh waktu. mungkin berusaha sambil menunggu waktunya tiba. dan saatnya membuktikan,
bahwa saya bukanlah orang yang seperti orang lain kira.
bahwa saya peduli lingkungan.
dan jika memang diperlukan, saya siap berkorban jika itu memang sebuah keharusan.
*pszht*
bimbang, ingin pulang, tapi tak ada yang dibanggakan. mamah, imut, alm father… sorry!
December32008
bukan waktunya untuk kita hanya menjadi kloning-kloning buangan sisa percobaan, sekarang waktunya kita menjadi Pembuat virus dan menyebarkan limbahnya kepada negara lain.
*pszht*
agar kita tak usah meributkan obama, tapi Indonesia
4PM
kemarin saya melakukan hal yang paling terasing dalam hidup saya. sebuah tindakan yang tak pernah saya duga bisa saya lakukan sebelumnya, akhirnya singgah dalam kehidupan saya. secara tak disengaja, saya ditawari untuk menjadi sukarelawan dalam program ‘Charity for Care’ Kelompok Usaha Bakrie. cukup simpel, hanya mengajar di halaman depan masjid Al Bakrie. awalnya saya menduga, mungkin hanya akan ada belasan atau paling banyak tiga puluh murid yang akan hadir. namun setelah saya tiba di lokasi, ada sekitar seratus lima puluh anak yang hadir disana. hari selasa, giliran kelas dua dan tiga SD. yang jelas, mulai dari TK hingga SMP kelas tiga bisa mengikuti tambahan pelajaran tersebut.
dari situ saya sempat ragu, dan ingin sekali mundur dari program tersebut. dalam hati, jujur saya ingin menangis. karena yang datang disana rata-rata adalah anak-anak warga sekitar yang tingkat pendapatannya tergolong rendah. sungguh, betapa miris hati saya. dikala saya yang saat ini terkadang malas untuk masuk kelas, ratusan anak tersebut dengan antusias duduk di depan saya dan minta untuk belajar. awalnya saya bingung, karena memang program ini baru berjalan, sehingga belum ada cara pengajaran yang efektif terhadap anak-anak tersebut. untuk itu, setiap tenaga pengajar dituntut untuk memiliki cara pengajaran tersendiri. dan saya adalah salah satu dari sepuluh pengajar yang kemarin datang. awal mula setiap anak dikelompokkan dan diberi seorang pengajar/mentor. dan kebetulan saya kebagian delapan anak, enam laki-laki dan dua perempuan. jika saya tidak lupa, mereka adalah sefin,vita,iqbal,luqman,rifa,febri,yasser dan dafa. mulailah hati saya tersentuh.
tidak hanya karena akan kenakalan mereka, atau justru antusias mereka dalam mendapatkan pengetahuan dari saya. tapi saya teringat mama saya. saat itu sontak saya uring-uringan dalam hati. ingin menagis benar rasanya, karena tak lain karena akhirnya saya dapat merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang guru. namun saya masih tak dapat membayangkan. bagaimana sulitnya mama saya yang notabene seorang guru Sekolah Luar Biasa yang menangani anak-anak Tunarungu ( bisu dan tuli ). saya tak dapat membayangkan, bagaiamana sabarnya ia saat ia harus berhadapan dengan anak-anak yang boleh dikata memiliki kekurangan secara fisik (indera). bagaimana dia dapat merespon dengan baik saat-saat mereka ingin tersenyum senang, atau bagaimana menangkap suatu titik saat mereka sedang sedih. pasalnya, saya yang diberikan wewenang untuk mengajar delapan anak kelas dua SD yang normal saja rasanya tak tahan betul akan kenakalan dan rasa keingintahuan mereka yang tak pernah ada habisnya. energi yang mereka keluarkan seolah tak ada habisnya. dan saya, sebisa mungkin harus menjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan mereka. meskipun hanya pertanyaan-pertanyaan absurd yang berulang-ulang seperti : ’ kak, gimana caranya? aku gak ngerti.’.
mungkin itulah yang dapat saya ambil. mama saya bilang, itu adalah sebuah pengalaman yang tak akan bisa saya beli dengan uang. ini bukan soal jual beli, ini soal social responsibility kalau menurut prinsip management. mungkin untuk sebagian orang, hal ini terkesan biasa saja. tapi buat saya yang baru pertama kali mendapat pengalaman ini. sungguh! ini lebih berharga ketimbang saya menghabiskan waktu di mall atau tempat-tempat wisata. sebuah makna hidup yang saya cari. tentang hidup yang selama ini saya pertanyakan. dan jika memang ada yang lebih berharga, mungkin saya akan mengetahuinya dalam tahap taraf kehidupan ini. semoga!
3PM
don’t give up, just stand up! - ” all artist “
*pszht*
I’m From Barcelona - “The Painter”Reblogged from: Graphic Lyrics / Post was created by: graphiclyrics
3PM
Bakrie membangun anak bangsa ,raih rasa penuh cinta persada
Bakrie merajut nusantara,mengemban amanat tugas yang nyata
Sumbang karya, Karsa dan Daya
Sepenuh jiwa bagi sesama
Mengemban asa kaum muda, hadirkan manusia mulia
berkarya bagi nusa bangsa
majulah negeri bangga bersemi
berkarya bagi Indonesia
Cendekia abdi negara
bersama gapailah harapan
majulah negeri bangga berseri
menyongsong masa depan jaya
posted by*pszht*
December12008
let it free, your soul,your mind, and your heart. get the spirit!
*pszht*
Reblogged from: Hunson Is Groovy / Post was created by: graphiceverywhere
3PM